Peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia 

Bandung, Ketua Senat Akademik Institut  Teknologi Bandung  Prof. Edy Tri  Baskoro, M.Sc., Ph.D. memberikan Sambutan pada Acara Sidang Terbuka Peringatan 106 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia  di Aula Barat, ITB Kampus Ganesha, pada hari Jum’at, 3 Juli 2026.

Peran Perguruan Tinggi Teknik, Revolusi Kecerdasan Buatan dan Transformasi Ilmu Pengetahuan

 

Yang terhormat,

Ketua beserta anggota MWA ITB

Rektor beserta seluruh jajaran pimpinan ITB

Pimpinan dan anggota Senat Akademik ITB

Pimpinan dan anggota Forum Guru Besar ITB

Para sesepuh ITB

Yang kami banggakan,

Para dosen, mahasiswa, dan staf tenaga kependidikan ITB

Yang kami muliakan,

Para undangan dan hadirin.

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua.

Mari kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat, diantaranya nikmat kesehatan dan kesempatan, yang dianugerahkan kepada kita semua sehingga dapat menghadiri peringatan 106 tahun Perjalanan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia. Sebuah perjalanan yang panjang yang telah banyak melahirkan  capaian, prestasi, inovasi, dedikasi dan juga tantangan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kemajuan bangsa.

Bagian Pertama

Para hadirin sekalian yang saya hormati, perkenankan saya berbagi kegelisahan dan kegamangan saya di tengah gelombang transformasi teknologi yang tanpa preseden dalam sejarah peradaban manusia. Kecerdasan buatan (AI), yang sekedar menjadi bahan diskusi akademis beberapa tahun silam, kini telah ber-revolusi menjadi entitas yang mampu melakukan penemuan ilmiah fundamental. Kemajuannya sekarang dihitung dalam periode minggu, bukan lagi bulan, apalagi tahun. Baru-baru ini, dunia matematika diguncang oleh berita bahwa AI telah berhasil menyelesaikan “Unit distance problem,” salah satu masalah terbuka (open problem) yang pertama kali dikemukakan oleh matematikawan legendaris Paul Erdős pada tahun 1946.

Pencapaian ini bukan sekadar teknis semata, melainkan peristiwa epistemologis yang mengguncang landasan bagaimana kita memahami makna penemuan ilmiah. Menanggapi temuan ini, adalah Tim Gowers, Fields Medal Laureate dari Universitas Cambridge dan Peter Scholze dari Max Planck Institute, yang juga Fields Medal Laureate, mengakui terobosan signifikan ini.  Bahkan, mereka mengakui bahwa seandainya temuan ini dihasilkan oleh seorang matematikawan manusia, publikasinya akan diterima di jurnal matematika kelas teratas. Ini menandai pergeseran paradigma di mana AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi agen penemuan ilmiah mandiri pada tingkat tertinggi.

Namun, di balik kabar ini, muncul pertanyaan etis yang mendasar tentang implikasi kemajuan AI yang sedemikian pesat. Sebagai respons terhadap perkembangan ini, pada awal Juni 2026, sekelompok peneliti dari 15 universitas mengeluarkan  Leiden Declaration on Artificial Intelligence and Mathematics. Deklarasi ini secara resmi didukung oleh International Mathematical Union (IMU), badan tertinggi profesi matematika dunia, yang menegaskan urgensi isu ini bagi seluruh komunitas ilmiah global, dan bukan hanya bidang matematika.

Deklarasi Leiden mengidentifikasi lima ancaman utama yang dihadirkan oleh adopsi AI secara tidak terkendali dalam dunia sains, di antaranya:

Pertama, ada risiko serius terkait keandalan hasil: AI mampu menghasilkan “bukti” yang tampak meyakinkan namun menyimpan kesalahan renik.  Kedua, masalah atribusi dan hak cipta muncul karena model AI sering mengabaikan sumber aslinya. Selain itu, AI berpotensi memperdalam ketimpangan — akses terhadap sumber daya komputasi yang mahal. Ditambah lagi, fenomena overhyping dalam publikasi populer mendorong persepsi berlebihan atas kemampuan AI, berisiko menyingkirkan kontribusi manusia. Pada akhirnya, jika arah penelitian lebih ditentukan oleh kepentingan komersial perusahaan teknologi, maka kita kehilangan otonomi akademik, di mana sains tidak lagi bebas menentukan agenda penelitiannya.

Ancaman-ancaman ini bukan sekedar konseptual, melainkan sudah mulai terwujud dalam praktik. Kita telah menyaksikan bagaimana AI mulai menggantikan tenaga kerja manusia dan menyebabkan PHK massal di berbagai sektor. Dalam pendidikan, penggunaan AI yang tidak terkendali dapat mendegradasi kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika AI menyentuh aspek fundamental seperti peperangan otonom, hubungan interpersonal, dan bahkan konsep kemanusiaan itu sendiri.

Deklarasi Leiden menekankan perlunya langkah proaktif agar AI tidak merusak nilai dasar sains. Rekomendasi utamanya mencakup transparansi penuh. Selain itu, deklarasi ini mendorong investasi publik dalam pengembangan AI untuk sains, agar tidak sepenuhnya didominasi kepentingan komersial swasta. Tujuan utamanya adalah menjaga integritas, akuntabilitas, dan kemandirian penelitian di era teknologi AI.

Hal ini juga sejalan dengan semangat Ensiklik Magnifica Humanitas dari Paus Leo XIV, yang menyerukan agar kemajuan dan inovasi teknologi terutama AI harus diletakkan di bawah pelayanan yang menjunjung tinggi martabat manusia untuk kebaikan bersama.

Teknologi AI dapat membawa kebaikan yang luar biasa bagi umat manusia, tetapi juga dapat memecah belah jika dibiarkan berkembang tanpa kendali moral dan regulasi yang ketat. Kita berdiri di titik balik sejarah di mana pilihan kita hari ini akan menentukan apakah teknologi ini menjadi alat untuk memajukan peradaban atau justru menggerus nilai-nilai kemanusiaan.

Bagian Kedua

Hadiran yang saya hormati, gelombang revolusi AI yang kita diskusikan tadi berlangsung dalam konteks transformasi yang lebih luas dalam pendidikan tinggi global. Kita menyaksikan fenomena di mana beberapa bidang studi dan program studi mulai kekurangan minat dan kemudian ditinggalkan, sementara di sisi lain muncul program-program baru yang dirancang untuk menunjang kemajuan teknologi.

Di Amerika Serikat, kita telah mendengar berita tentang program-program studi di berbagai universitas yang sangat kekurangan peminat. Institusi-institusi besar telah mengurangi atau mereorganisasi berbagai program studi tersebut. Tren ini mencerminkan pergeseran nilai masyarakat dan pasar kerja yang semakin mengutamakan keahlian teknis dan kuantitatif. Di Tiongkok, kita melihat pendekatan lain, yaitu reorganisasi besar-besaran program studi. Universitas-universitas top seperti Tsinghua dan Fudan secara sistematis menggabungkan berbagai disiplin ilmu dan mengalokasikan ulang sumber daya manusia dan keuangan mereka untuk mendukung program strategis seperti kecerdasan buatan, semikonduktor, bioinformatika, dan teknologi hijau.

Sekarang, gelombang transformasi ini tampaknya telah sampai juga di Indonesia. Ada dorongan kuat dari berbagai pihak untuk meninjau kembali eksistensi program-program studi yang memiliki minat rendah, yang juga berdaya serap lulusan yang rendah, atau yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan pasar kerja masa kini. Dalam konteks ini, kita menghadapi dilema kehakekatan yang akut. Di satu sisi, universitas memiliki peran sebagai konservator keilmuan—penjaga warisan intelektual kemanusiaan yang telah dibangun selama berabad-abad; Banyak pengetahuan yang tampaknya tidak praktis hari ini, tetapi mungkin menjadi kunci solusi untuk masalah masa depan yang belum kita bayangkan. Di sisi lain, universitas juga harus menjadi penggerak inovasi yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.

Pertanyaan mendasar yang kita hadapi adalah menyeimbangkan kedua peran ini dalam era di mana teknologi berubah dengan laju eksponensial. Apakah kita harus mengorbankan disiplin ilmu klasik demi program yang lebih relevan secara ekonomi? Ataukah kita harus mempertahankan semua disiplin ilmu dengan risiko menjadi tidak relevan dengan kebutuhan pasar?

Tantangan ini menjadi semakin kompleks ketika kita mempertimbangkan implikasi sosial dan budaya dari transformasi pendidikan tinggi. Pendidikan bukan sekedar tentang transfer pengetahuan dan keterampilan untuk pekerjaan. Pendidikan adalah tentang pembentukan karakter, pengembangan pemikiran kritis, dan penumbuh-kembangkan nilai-nilai kemanusiaan. Ketika kita terlalu berfokus pada aspek ekonomis dan keterpekerjakan, kita berisiko kehilangan esensi kemanusiaan dari pendidikan itu sendiri.

Di tengah gejolak ini, perguruan tinggi teknik seperti ITB memiliki tanggung jawab khusus sebagai institusi di garda depan revolusi teknologi. Kita  harus memastikan bahwa kemajuan teknologi yang kita hasilkan dan ajarkan senantiasa dijiwai oleh nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan kebijaksanaan. ITB dengan tradisi keilmuan yang kuat dan jaringan alumni yang luas, berada dalam posisi unik untuk memimpin diskursus ini.

 

Bagian Ketiga

Para hadirin sekalian yang saya hormati, tadi kita telah membahas dua tantangan besar yang dihadapi oleh perguruan tinggi teknik di Indonesia dan dunia: revolusi kecerdasan buatan yang mengguncang landasan kehakekatan kita, serta transformasi struktur pendidikan tinggi yang memaksa kita menata kembali prioritas keilmuan.

Dalam menghadapi tantangan ini, pertama kita perlu memahami secara mendalam arah dan implikasi revolusi AI dan transformasi pendidikan. Kita harus menjadi pemikir kritis yang mampu mengevaluasi kekuatan dan keterbatasan dari perkembangan ini. Di sini perlunya kita memiliki landasan sains dasar dan teknologi yang mumpuni yang membentuk pola pikir analitis dan kritis.

Kedua, kita perlu menjaga integritas akademik di tengah segala perubahan. Integritas akademik bukan hanya tentang mencegah plagiarisme atau kecurangan. Integritas akademik adalah tentang komitmen kita terhadap kebenaran, keobjektifan, dan tanggung jawab etis dalam seluruh aspek kehidupan akademik.

Ketiga, kita perlu memperkuat kolaborasi—baik antar disiplin ilmu, antar institusi, maupun antar negara. Tantangan yang dihadapi oleh manusia saat ini terlalu kompleks untuk dipecahkan oleh satu disiplin ilmu atau satu institusi saja. Revolusi AI menawarkan alat-alat baru yang memungkinkan kolaborasi yang lebih efektif, dengan kolaborasi yang lebih terarah.

Keempat, kita perlu mengembangkan visi jangka panjang yang tidak hanya terfokus pada keuntungan ekonomis jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap masyarakat, budaya, dan peradaban. Pendidikan tinggi bukan hanya penghasil tenaga kerja, namun merupakan laboratorium di mana masa depan peradaban dirancang dan diuji coba.

 

Bagian Keempat

Seperti yang tertuang dalam Rencana Induk Pengembangan (RENIP) ITB 2025-2050 (Keputusan Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Bandung Nomor: 02/IT1.MWA/SK-PR/2024), kita tidak hanya merespons perubahan, tetapi kita bertekad untuk menjadi agen transformasi yaitu pelopor yang membentuk masa depan ilmu dan teknologi berdasarkan prinsip kejujuran akademik, keberlanjutan, dan komitmen nasional. Visi ini merupakan komitmen kolektif agar inovasi, apa pun bentuknya, tetap berpijak pada integritas ilmiah dan arah kebangsaan yang jelas.

Lebih dari itu, Harkat Pendidikan Tinggi di ITB (Peraturan Senat Akademik ITB Nomor 05/It1.SA/PER/2020) menegaskan bahwa universitas harus menjadi wadah peradaban, di mana intelektualitas digembleng bersama karakter, dan di mana skeptisisme ilmiah berjalan beriringan dengan tanggung jawab etis. Kita harus menjadi benteng terakhir bagi kerendahan hati dalam pengetahuan, yang mengingatkan bahwa kemajuan ilmu bukan semata untuk efisiensi, tetapi untuk memajukan kemanusiaan dan memperluas keadilan sosial.

Oleh karena itu, langkah kita ke depan harus didasarkan pada dua tonggak, yaitu: keberanian inovatif dan kearifan konservatif. Keberanian untuk menguji batas ilmu, mengadopsi teknologi mutakhir, dan membentuk disiplin baru; kearifan untuk menjaga warisan hakekat keilmuan, melindungi martabat proses ilmiah, dan memastikan bahwa pendidikan tinggi tetap menjadi medan pembentukan insan akademik yang utuh. Di sinilah letak ITB dapat berperan, bukan hanya dalam mengejar perubahan, tetapi juga dalam menetapkan arahnya, dengan pikiran yang tajam, nurani yang terpelajar, dan berkomitmen pada kebaikan bersama.

 

Bagian Penutup

Hadirin yang saya hormati, pada Hari Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia ini, marilah kita meneguhkan kembali komitmen bahwa teknologi harus menjadi sarana untuk memajukan martabat manusia. Keunggulan akademik, inovasi teknologi, dan tanggung jawab etis harus senantiasa berjalan beriringan. Mari kita wujudkan Indonesia sebagai pelopor pendidikan tinggi teknik yang tidak hanya melahirkan teknologi unggul, tetapi juga membangun peradaban yang lebih adil, berkelanjutan, dan bermartabat.

 

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberi kita kekuatan dan hikmah dalam menunaikan tanggung jawab ini.

 

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Berita Terkait